Senin, 22 September 2008

Tamasya ke Taman Cinta (Allah)

HADIL ARWAAH ILA BILADIL AFRAAH

Setelah sehari-hari kita disibukkan oleh hiruk pikuk duniawi, marilah sejenak kita rehatkan jiwa dan raga dengan sedikit menilik keadaan surga, yang merupakan gambaran kehidupan kekal tempat kembalinya kita nanti. AMIN, insyaallah. Melalui buku berjudul TAMASYA KE SURGA ini, semoga kita akan mendapat gambaran tentang bagaimana cara meraihnya.

Jalan menuju serga diliputi oleh segala hal yang tidak menyenangkan dan jalan menuju neraka diliputu dengan syahwat.

Bagian pertama berjudul eksistensi surga, dan seterusnya hingga 69 bab. Pembahasan mengenai orang-orang yang berhak memasukinya. Surga memiliki 8 pintu, dengan Jarak antara pintu surga adalah 40 tahun / 1250 km, terdiri dari 100 tingkat, jarak antara dua tingkatnya seperti langit dan bumi. Subhanallah.

Sebagian daftar isinya antara lain adalah pendapat sahabat, luas pintu surga, jalan menuju surga, tingkatan surga, nama-nama surga, umat yang masuk surga,kenikmatan di surga, dalil-dalil tentang surga, cahaya surga. Buku ini mengupas habis tentang surga, hidangannya, taman di surga, dsb.

Lalu, bagaimana cara masuk surga...?

Barang siapa menghapal 99 nama Allah, dia akan masuk surga.
Tempat tinggal di surga juga berdasarkan akhir hafalan Al Qur'an.

Apa kunci surga...? La ilaha illallahu, la hawla wala quwwata illa billahi.

Bagaimana orang tertarik dan rindu pada surga, kalau tidak tahu apa sesungguhnya yang ia rindukan ? Buku ini membeberkan tentang surga sesuai petunjuk Al Quran, sunnah dan penjelasan sahabat, tabiin dan ulama terdahulu dengan sempurna dan runut.

ALLAH AZZA WA JALLA berfirman: Lihatlah istana hambaKu, barangsiapa yang kalian lihat meminta surga kepadaKu, maka Aku berikan surga kepadanya dan barangsiapa berlindung kepadaKu dari neraka, maka aku melindunginya dari neraka.Yang pertama kali dipanggil ke surga adalah orang yang selalu memuji Allah pada saat senang dan susah.

HR Ahmad: 3 orang dari umat yang pertama kali masuk surga: syahid, hamba sahaya yang tidak disibukkan dunia dari taat kepada Rabbnya dan orang fakir yangmempunyai tanggungan yang menjaga diri dari meminta-minta.
Orang yang pertama kali masuk neraka: pemimpin yg kejam, orang kaya yg tidak menunaikan hak Allah dari hartanya tsb dan orang fakir yg sombong.

Key Of ...

KUNCI HEAVEN : Kesaksian La Ilaha Illallahu ; la hawla wala quwwata illa billahi
Kunci shalat : thaharah , Kunci haji : ihram, Kunci segala kebaikan : kejujuran
Kunci surga : tauhid, Kunci ilmu : bertanya dengan baik dan serius mendengar
Kunci kemenangan dan kegemilangan : sabar, Kunci penambahan nikmat : sukur
Kunci kewalian : cinta dan zikir, Kunci keberuntungan : takwa
Kunci petunjuk : cinta dan takut pada Allah swt, Kunci permintaan:doa
Kunci cinta akhirat:zuhud di dunia, Kunci iman: merenungkan apa saja yang diperintahkan Allah kepada hamba-hambaNya untuk direnungkan
Kunci masuk kepada Allah swt: penyerahan hati, kesehatannya kepadaNya, ikhlas karena Nya dalam cinta, benci, mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kejahatan
Kunci kehidupan hati:merenungkan Al Qur’an, merendahkan diri, berdoa pada waktu sahur dan meninggalkan dosa.
Kunci mendapat rahmat dan ihsan : beribadah kepada Al Khaliq dan berusaha menjadi orang yg bermanfaat bagi hamba-hambaNya
Kunci rezeki :bekerja disertai istighfar dan takwa, Kunci kemuliaan: taat kpd Allah swt dan rasulNya
Kunci persiapan menuju akhirat : memperpendek angan-angan
Kunci segala kebajikan: cinta Allah swtdan negeri akhirat
Kunci segala keburukan: cinta dunia dan panjang angan-angan.
Kunci masuk neraka: syirik, sombong, berpaling dari ajaran Allah SWT yg dibawa RasulNya, enggan berdzikir dan tidak menunaikan hak-hakNya.
Kunci segala dosa: khamr, Kunci perzinahan: kesesatan, Kunci pacaran: melihat gambar porno
Kunci kemunafikan: kebohongan, Kunci kepelitan, memutus hubungan kerabat, mengambil harta orang lain dengan tidak halal: kikir dan ambisius
Kunci bidah dan kesesatan: berpaling dari ajaran Rasul

Al Maidah: 15-16
Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan-jalan keselamatan.

Surga tidak bisa dibayangkan, Ia adalah cahaya yang berkemilau, aroma yang semerbak, istana yang megah, sungai yang mengalir, buah-buahan yang ranum, bagai istri yang menawan dan mempesona, bagai perhiasan yang banyak, di tempat yang abadi dan negeri yang aman. (Abu Umamah ra)



Tags: tamasya ke surga

Prev: kupinang engkau dengan hamdalah
Next: HURU HARA AKHIR JAMAN


Luasnya Neraka
( Sejenak kita renungi...........) ; dari milis sobat azzam


Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibril datang kepada Nabi saw pada waktu yg ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh nabi s.a.w.: "Mengapa aku melihat kau berubah
muka?" Jawabnya: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman dari padanya."

Lalu nabi s.a.w. bersabda: "Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam." Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan basinya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Qur'an itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi,
dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bagiannya yang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan."

Nabi s.a.w. bertanya: "Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah kami?" Jawabnya: "Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap
pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda." (nota kefahaman: yaitu yg lebih bawah lebih panas)

Tanya Rasulullah s.a.w.: "Siapakah penduduk masing-masing pintu?" Jawab Jibril: "Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang yg kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga
Fir'aun sedang namanya Al-Hawiyah.
Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim, Pintu ketiga tempat orang shobi'in bernama Saqar. Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama
Ladha, Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah. Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa'eir."

Kemudian Jibril diam segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya: "Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?" Jawabnya: "Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg sampai mati belum
sempat bertaubat."

Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibril meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar nabi saw bersabda: "Ya Jibril, sungguh besar
kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?" Jawabnya: "Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu."

Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibril juga menangis, kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang
selalu menangis dan minta kepada Allah.(dipetik dari kitab "Peringatan Bagi Yg Lalai")

Dari Hadits Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku. Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu itu: Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat.
Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat

Mudah-mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kita semua.

Wallahua'lam.


Kupinang engkau dgn hamdalah
M fauzil adhim


Sepertinya pengarang ingin membagi rindunya kepada pembaca akan pernikahan barakah, sakinah, mawaddah wa rahmah. Dengan harapan, semoga kelak Allah mengaruniakan keturunan yg memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illallah

Astaghfirullahal adzim
Laa ilaaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin.
Rabbana zhalamna anfusana waillam taghfirlana lanaa kuunanna minal khosirin.


Rasulullah bersabda
akan lebih sempurna ketakwaan seorang mukmin apabila ia menikah. Nikah adalah penyempurna iman.
Harta laki-laki yg paling berharga : mempunyai istri shalihah, patuh, yg sejuk dipandang, menjaga kehormatan diri & harta suami, jika suami membuatnya merasa adil.

3 orang yang akan selalu diberi pertolongan : Mujahid yg selalu memperjuangkan agama Allah, penulis yg memberi penawar dan seorang yg menjaga kehormatannya.

HR Ahmad: mintalah fatwa dari hatimu, kebaikan itu adalah apa-apa yg tenteram jiwa padanya & tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yg syak dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberiku fatwa kepadamu & mereka membenarkannya.

Harta yg utama adalah lisan yg senantiasa zikir , hati yg senantiasa bersyukur, dan istri yg beriman yg membantu suami menegakkan bangunan imannya. (HR Ibnu Majah&Tirmidzi, hasan)

Mudah-mudahan Allah mengampuni segala kesalahan kita dalam melangkah, sejak dari niat ketika akan berangkat sampai tindakan-tindakan sesudah akad pernikahan hingga walimahnya.

rujukan bagi yang mau walimahan niy...!


MENGGAPAI CINTA ALLAH

Oleh: Dewan Asatidz

Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."

Dalam amal ubudiyah, cinta (mahbbah) menempati derajat yang paling tinggi. Mencintai Allah dan rasul-Nya berarti melaksanakan seluruh amanat dan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, disertai luapan kalbu yang dipenuhi rasa cinta.

Pada mulanya, perjalanan cinta seorang hamba menapaki derajat mencintai Allah. Namun pada akhir perjalanan ruhaninya, sang hamba mendapatkan derajat wahana yang dicintaiNya. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : /Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."/

Dalam buku "Mahabbatullah" (mencintai Allah), Imum Ibnu Qayyim menuturkan tahapan-tahapan menuju wahana cinta Allah. Bahwasanya cinta senantiasa berkaitan dcngan amal. Dan amal sangat tergantung pada keikhlasan kalbu, disanalah cinta Allah berlabuh. Itu karena Cinta Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan yagn tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah.

Tahapan-tahapan menuju wahana cinta kepada Allah adalah sebagai berikut:

1. Membaca al-Qur'an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Itu tidaklain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal danmampu menjelaskan al-Qur'an agar dipahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah swt. Al-Qur'an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak bisa ditandingi dengan kemuliaan apapun. Ibnu Sholah mengatakan "Membaca Al-Qur'an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia".

2. Taqarub kepada Allah swt, melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardlu. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardlu dengan sempurna mereka itu adalah yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya adalah: shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah,sedekah sunnah dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah.

3. Melanggengkan dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melaui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Kadsar kecintaan seseorang terhadap Allah tergantung kepada kadar dzikirnya kepadaNya. Dzikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman :"Aku bersama hambaKu,s elama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepadaKu".

4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Memprioritaskan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Artinya ia rela mencintai Allah meskipun beresiko tidak dicintai oleh mahluk. Inilah derajat para Nabi, diatas itu derajat para Rasul dan diatasnya lagi derajat para rasulul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah derajat Rasulullah Muhammad s.a.w. sebab beliau mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah.

5. Kontinuitas musyahadah (menyaksikan) dan ma'rifat (mengenal) Allah s.w.t. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesadaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma'rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi). Barang siapa ma'rifat kepada asma-asma Allah, sifat-sifat dan af'al-af'al Allah dengan penyaksian dan kesadaran yang mendalam, niscaya akan dicintai Allah.

6. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin akan mengantarkan kepada cinta hakiki kepadaNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah s.w.t. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.

7. Ketertundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu'. Hati yang khusyu' tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.

8. Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Kapankan itu? Yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah s.w.t. turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah.

9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah s.w.t.

10. Menjauhi sebab-sebab yang menghalangi komunikai kalbu dan Al-Khaliq, Allah subhanahu wataala.

Disarikan oleh Muhammad Dzaki Ismail

Damai dengan Islam

Oleh: Dewan Asatidz

Manusia adalah makhluq yang memiliki fitroh agama, sebagaimana manusia memiliki fitroh makan, tidur, nikah dan bersosial, namun dari sekian banyak fitroh yang terdapat dalam diri manusia fitroh agamalah yang terpenting untuk diprioritaskan sehingga menjadikan kehidupan manusia itu sendiri damai dan tentram dengan fitroh keagamaanya, karena pada dasarnya semua jiwa yang ada dimuka bumi ini semua memiliki fitroh keislaman semenjak manusia dilahirkan dari rahim ibunya, sebagaimana yang telah disabdakan Rasululloh saw dalam hadistnya : “ semua yang terlahir dimuka bumi ini dalam kondisi fithroh maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan mereka beragama yahudi, nashrani, dan majusi “ ( hadist ) “dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu�(surat Adz-dzariyaaat) Manusia adalah makhluq yang memiliki fitroh agama, sebagaimana manusia memiliki fitroh makan, tidur, nikah dan bersosial, namun dari sekian banyak fitroh yang terdapat dalam diri manusia fitroh agamalah yang terpenting untuk diprioritaskan sehingga menjadikan kehidupan manusia itu sendiri damai dan tentram dengan fitroh keagamaanya, karena pada dasarnya semua jiwa yang ada dimuka bumi ini semua memiliki fitroh keislaman semenjak manusia dilahirkan dari rahim ibunya, sebagaimana yang telah disabdakan Rasululloh saw dalam hadistnya : “ semua yang terlahir dimuka bumi ini dalam kondisi fithroh maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan mereka beragama yahudi, nashrani, dan majusi “ ( hadist ) Berdasarkan hadist diatas kita sebagai umat Islam seharusnya bangga bahkan harus percaya diri sekaligus mampu mengimpelentasikannya dalam prilaku sehari-hari, dengan menampilkan identitas diri sebagai muslim kaffah sebagaimana salah satu visi Islam yaitu membawa kedamaian dimanapun muslim itu berada. Dalam kaitan kali ini sepertinya kita lazim sebagai orang yang dilahirkan dalam kondisi Islam untuk mengetahui lebih dalam tentang agama yang menempel dalam diri kita sehingga kita tidak hanya berpredikat orang Islam tapi lebih dari itu harus menjadi seorang yang muslim kaffah seorang yang tidak hanya berbicara Islam tapi tidak berprilaku islami, juga tidak hanya bermulut Islami tapi berhati durjani, sehingga marilah kita review kembali pemahaman kita tentang Islam yang begitu indah untuk disimak, enak didengar, ni`mat dirasa, serta nyaman dihati, namun karena luasnya pemabahasan tentang Islam, maka disini mungkin hanya diulas sebatas bahasa, itupun dengan tulisan penulis yang sangat terbatas kemampuannya. Islam dalam arti bahasa “ damai� “selamat� “tentram� dan orang yang memeluk agama Islam maka disebut muslim yaitu orang yang memeluk agama damai, selamat dan tentram, maka kewajiban seorang muslim harus memiliki bahasa, ucapan dan prilaku yang membawa kedamaian, menjaga keselamatan jauh dari sangkaan serta membawa ketentraman sehingga menyenangkan siapapun yang melihatnya, seorang muslim harus bersikap kritis, aktif, dinamis dan inovatif, jauh dari kejumudan, perhelatan dan persinggungan. Islam menurut ulama terdahulu yaitu “agama atau aturan yang harus dipatuhi yang memiliki nilai kebenaran tanpa kita meragukannya sedikitpun, juga agama yang kekal sepanjang masa sejarah umat manusia, syamil (universal), kaamil mutakaamil(sangat sempurna jauh dari kekurangan) yang meliputi segala macam aspek kehidupan manusia,diberikan aturan tersebut hanya kepada orang yang memiliki akal sehat dan luus, tidak lain untuk kebahagian manusia didunia maupun diakherat kelak. Dari definisi diatas kita sebenarnya sudah sering mendengarnya bahkan mampu menghapalnya dalam hitungan detik atau menit, namun dalam hal ini kita tidak hanya dituntut untuk tahu dan kemudian dilupakan begitu saja, namun Islam mengajarkan kita untuk mengimplementasikan semua yang kita ketahui berupa amalan yang memiliki nilai ibadah sekaligus menentramkan manusia dimanapun berada, disamping dari hal yang didefinisikan diatas Islam masih memerlukan bukti kemusliman seseorang yaitu menjadi rukun yang menempel secara otomatis ketika dia muslim dengan berupa pengamalan rukun Islam yang lima dengan dilandasi rukun iman yang enam yang telah tertanam jauh sebelum kita memahaminya. Akhirnya, marilah kita yang sejak kecil dididik dalam kondisi iman kepada Allah swt, Malaikat-malaikat Nya, Kitab-kita Nya, rsaul-rasul Nya, hari akhirat serta qodho dan qodar Nya, sekaligus sudah mengamalkan kewajiban rukun Islam yang lima dengan kemampuan sesuai yang kita miliki masing-masing dengan kondisi diatas kita bersyukur dengan memperbaiki semua prilaku kita dalam kehidupan ini, sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang kufur ni`mat. Sebelum mengakhiri susunan kata-kata ini, marilah kita merenung sejenak betapa besarnya karunia Allah swt yang telah diberikan kepada kita, sehingga dari sekian besarnya karunia Allah swt, sudikah kita sisipi waktu untuk mengingat kekuasaan Allah swt dalam hari-hari kosong kita? Sudikah mata yang kita pakai seharian untuk melihat indahnya alam ini kita sisipkan untuk melihat Kalamullah( Al-Qur`an )? Sudikah telinga yang kita pakai sejak bangun hingga tidur kembali kita sisipi untuk mendengarkan perintah Allah serta nasehat-nasehat kebaikan untuk diri kita? Sudihkah kita sedikit mengerutkan kening untuk memikirkan kekuasaan Allah swt? Dan banyak lagi pertanyaan yang wajib dijawab dalam setiap diri pribadi muslim kaffah Sesungguhnya semua manusia sejak dari Nabi Adam hingga kiamat nanti dalam keadaan merugi, kecuali hanyalah orang-orang yang beriman (namun tidak hanya beriman ) sekaligus diaplikasikan dalam bentuk amalan-amalan yang sholih Sesuai dalam surat Al-ashr Wallahu `a`lam bishowaab Ahmadi

Oleh: Zahratunnisa` Hamdi

Sesuatu yang diperoleh dengan susah payah akan lebih berharga bagi pemiliknya daripada yang didapat dengan mudah atau bahkan cuma-cuma. Sebuah kata bijak tentang nilai sebuah perjuangan. Suatu kearifan yang patut direnungkan ketika kita melepas kepergian bulan Ramadhan.

Sesuatu yang diperoleh dengan susah payah akan lebih berharga bagi pemiliknya daripada yang didapat dengan mudah atau bahkan cuma-cuma. Sebuah kata bijak tentang nilai sebuah perjuangan. Suatu kearifan yang patut direnungkan ketika kita melepas kepergian bulan Ramadhan.

Ketika kemenangan telah digenggam, pastilah ia dihargai dengan tinggi karena perjuangan yang dilalui untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Perjuangan untuk meningkatkan kualitas pribadi sebagai seorang mukmin agar keimanan dan keislaman dalam diri tidak hanya tinggal menjadi barang warisan yang tidak terurus dan terbengkalai. Betapa banyak dari saudara kita yang harus berhadapan dengan berbagai kesulitan dan bahkan ancaman maut demi untuk menggenggam erat hidayah. Merekalah yang benar-benar merasakan betapa berharganya sebuah kehidupan dalam damai keimanan setelah melalui pahit getir dan cabikan pengorbanan. Karenanya mereka tidak akan mudah menjualnya dengan apapun, bahkan akan memberikan segalanya demi tidak hilangnya apa yang telah ada dalam genggaman.

Lantas bagaimana dengan kita yang telah menggenggam mutiara itu sejak awal? Tidak akankah kita merasakan iman semanis yang dirasakan keluarga Yazid RA? Tidak akankah kita menjadi segagah dan setegar Umar bin Khattab RA dalam medan dan situasi apapun untuk mempertahankan yang haq? Mereka adalah cermin. Dan bagi kita yang telah Allah SWT takdirkan untuk tidak melalui fase berat seperti mereka disamping harus banyak bersyukur seharusnya juga berusaha untuk meneladani perjuangan mereka dengan cara yang sesuai dengan kondisi. Sudahkah ditengok apa yang telah ada dalam genggaman, masihkah ia berkilau ataukah jangan-jangan sudah karatan?

Menjaga kualitas dan keadaan iman dalam diri juga merupakan suatu perjuangan. Kekuatan dan kesabaran amat dibutuhkan untuk selalu melindunginya dari serangan kuman yang dapat membuatnya lapuk dan keropos. Itulah salah satu bentuk kesyukuran seorang hamba atas nikmat iman yang telah dikaruniakan-Nya. Merenungkan kembali apa yang telah kita lakukan sepanjang Ramadhan lalu, memikirkan seberapa jauh kesadaran diri untuk meningkatkan kualitas pribadi yang beriman agar ia tidak menjadi hanya sekedarnya. Juga, sejauh mana perubahan yang dirasakan sebagai hasil. Tentunya perenungan-perenungan tersebut membutuhkan kejujuran hati karena dengannya akan tercapai tujuan utama dari introspeksi, yaitu mengetahui kadar nilai jiwa dan amal yang kemudian diharapkan akan menghasilkan usaha peningkatan iman yang kontinyu. Hasil yang sebenarnya tentunya tidak akan dapat diketahui karena hal tersebut merupakan masalah gaib yang hanya menjadi urusan-Nya. Tetapi kiranya perubahan-perubahan dhahir dalam beramal dapat cukup dirasakan.

Adakah disadari, sangat mungkin sekali sebenarnya untuk mengakhatamkan Al-Qur`an paling tidak sebulan sekali ketika waktu benar-benar diatur dengan baik apalagi jika tidak disia-siakan untuk hal-hal yang tidak berguna, sebagaimana halnya sangatlah mungkin sebenarnya untuk menjauhi kemungkaran dan perkataan-perkataan fasik ketika keimanan membuat kita takut kehilangan pahala amalan yang dilakukan dengan susah payah. Mengapa kita tidak takut kehilangan cinta dan ridha Sang Kekasih dengan perbuatan-perbuatan yang mengkhianati-Nya pada setiap desah nafas? Telahkah disadari dan direnungkan bahwasannya saat-saat paling indah adalah ketika kita telah berhasil menginjak dan mengalahkan nafsu?

Tidak ada yang lebih membahagiakan dari saat ketika disadari bahwa diri telah selamat dari kesesatan setelah berada di tepi mulut jurangnya. Kesadaran-kesadaran semacam ini layaknya dapat dinilai sebagai sebuah kemenangan yang harus dihargai dengan mempertahankan dan meningkatkannya dalam setiap jengkal langkah kehidupan. Setelah keluar dari bulan suci, masihkah akan terasa berat untuk menarik nafas sejenak, menjernihkan otak dan menahan lidah untuk tidak membicarakan aib orang, atau membuat orang lain senang walau hanya dengan sekedar mengulurkan lembaran uang yang bagus dalam transaksi? Sangat sepele memang, tetapi sesuatu yang sepele ketika menjadi tabiat buruk akan menjadi amat buruk. Tidak sepatutnya untuk menjadi kikir juga dalam hal yang sebenarnya kita sama sekali tidak rugi dengannya. Begitu juga tidak seharusnya untuk pelit dan ragu mendoakan kebaikan untuk orang lain dunia dan akhirat karena rahmat Allah SWT tidak akan habis untuk kita hanya karena sebagian telah diberikan kepada orang lain, seperti juga surga-Nya yang tidak akan pernah padat penghuni. Seharusnya tidaklah perlu untuk takut tidak kebagian tempat hanya karena orang lain berada didalamya.

Banyak pelajaran berharga yang dapat direnungi setelah bulan Ramadhan dilalui seorang mukmin sebagai madrasah ihsan untuk mendeteksi bentang kebodohan dalam diri, pelajaran yang diperoleh melalui sebuah perjuangan untuk bersabar dan juga bertafakkur. Dan ketika perjuangan ini menghasilkan sebuah kemenangan dalam kadar yang bermacam, maka sangat layaklah ia untuk dihargai agar lentera iman senantiasa semakin benderang dalam hati.

Minal `aidin wal faizin, kullu `aam wa antum bi khair

PENTINGNYA MEMAHAMI SIRAH NABI (SAW)

Cetak halaman ini

Kirim halaman ini ke teman via E-mail

Oleh: Dewan Asatidz

Rasulullah (saw) adalah seorang contoh manusia yang paling dimuliakan oleh Allah. Seorang tokoh idola yang seharusnya ditiru. Terutama, bagi siapa saja yang ingin menjadi ahli surga. Nabi (saw) adalah seseorang dengan seluruh perilakunya mengandung kebaikan. membawa kebahagiaan, memberi ketenangan dan menciptakan keharmonisan. Allah SWT memilih Muhammad sebagai rasul-Nya untuk diikuti akhlaknya. Karena hanya dengan mengikuti Muhammad (saw), kebahagaiaan dunia-akhirat bisa tercapai.

Rasulullah (saw) adalah seorang contoh manusia yang paling dimuliakan oleh Allah. Seorang tokoh idola yang seharusnya ditiru. Terutama, bagi siapa saja yang ingin menjadi ahli surga. Nabi (saw) adalah seseorang dengan seluruh perilakunya mengandung kebaikan. membawa kebahagiaan, memberi ketenangan dan menciptakan keharmonisan. Allah SWT memilih Muhammad sebagai rasul-Nya untuk diikuti akhlaknya. Karena hanya dengan mengikuti Muhammad (saw), kebahagaiaan dunia-akhirat bisa tercapai. Mari kita ringkas mengenai pentingnya memahami Sirah Nabi dalam beberapa hal berikut ini :

Pertama : Sirah (perjalanan hidup) Rasulullah (saw), merupakan terjemahan hidup Al-Qur'an yang paling lengkap. Firman Allah : "Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka " ( QS.16:44 ). Begitu juga, Allah SWT menurunkan Al-Qur'an secara barangsur-angsur, sesuai dengan kejadian yang terekam dalam sirah Nabi (saw). Dari sini terlihat dengan jelas bahwa untuk memahami isi Al-Qur'an, kita harus memahami sirah Nabi (saw).

Kedua, Sirah Rasulullah (saw) adalah sirah yang paling agung dan paling lengkap. Terjaga dari penyimpangan dan penyelewengan. Para ulama sepanjang sejarah telah mempertahankan keaslian sirah ini dengan mempertahankan urutan sanad secara ketat. Ketat dalam arti bahwa para perawi sirah ini harus mempunyai kejujuran yang tinggi, dan diantara mereka harus sambung menyambung tanpa putus. Berbeda dengan periwayatan nabi-nabi sebelumnya, kita kesulitan untuk menemukan kisah yang lengkap tentang mereka. Misalnya mengenai masa kecil seorang nabi sebelum Muhammad (saw) dan seterusnya. Kalaupun ada – sebagaimana yang terdapat dalam buku Injil - seringkali periwayatannya sulit dipertanggung-jawabkan keasliannya, bahkan kerap menodai derajat kenabian mereka yang pada dasarnya identik dengan kesucian dan kemuliaan akhlak.

Ketiga, perjalanan hidup Rasulullah sangat transparan, tidak ada yang rahasia, dan tidak ada yang disembunyikan. Dari sejak masuk kamar mandi, cara tidur, cara masuk dan keluar rumah, cara bergaul dengan istri-istri, hingga kepribadaian sebagai seorang ayah, sebagai seorang teman dari sahabat-sahabatnya, seorang penglima perang, seorang pemuka agama, dan sebagai seorang pemimpin negara.

Dan yang menarik, bahwa semua sisi dari dimensi hidup yang baru saja kita sebutkan, merupakan cerminan kebaikan, contoh akhlak yang paling mulia, dan tauladan yang patut diikuti. Allah berfirman : " Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan ( kedatangan ) hari Kiamat dan di banyak menyebut Allah " ( QS.33:21 ). Keempat, siapapun yang membaca sirah Rasulullah (saw) pasti akan menemukan bahwa beliau adalah manusia biasa. Makan dan minum seperti kita. Mendapatkan ujian dan kesulitan hidup. Diusir dari kampung halamannya. Dihina dan disiksa oleh orang-orang yang membencinya. Seringkali kelaparan kerena kefakirannya. Namun, karena ketabahan yang sangat tinggi, Muhammad (saw) sanggup menahan lapar dengan penuh izzah (kehormatan). Dan karena kesabaran, beliau tidak pernah mengeluh sekalipun harus melakukan hijrah. Lantaran kegigihan, beliau sanggup menghadapi segala cobaan yang dihadapi. Karena keteguhan iman beliau tidak pernah putus asa. Dan berkat kesungguhan menjalani sunnatullah, Nabi (saw) mengambil segala sebab dan proses yang benar, dan bertawakkal kepada Allah secara mendalam. Akhirnya, Nabi (saw) mencapai kemenangan.

Sungguh tidak ada alasan bagi siapapun untuk mengatakan bahwa rahasia keberhasilan Muhammad dalam berda'wah adalah karena semata kerasulannya, seperti halnya seorang jagoan dalam sebuah film, yang sutradara telah menentukan ia pasti menang, kendati ia dengan atau tanpa berusaha. Tidak, Rasulullah bukan – dan tidak bisa diumpamakan sama sekali dengan - seorang jagoan dunia film. Beliau hidup di alam nyata. Beliau pernah kalah, dalam perang Uhud karena sebab-sebab tertentu. Dengan demikian, anggapan salah jika mengatakan, "wajar kalau Muhammad (saw) berhasil. Beliau kan Rasulullah, tidak bisa diumpamakan dengan kita". Pernyataan seperti itu, ternyata tidak hanya memperlemah keimanan dan kesungguhan kita untuk mengikuit jejak Rasulullah (saw) dengan sesungguh-sungguhnya dalam perjuangan menegakkan Islam di muka bumi. Melainkan justru dari sinilah munculnya berbagai penyakit umat yang kemudian menyebabkan kelumpuhan, keterpurukan, saling menggerogoti kekuatan yang ada, perpecahan berantai dalam tubuh masyarakat Muslim yang berujung dengan kemunduran umat Islam.

Wallalhu a’lam bisshowab

Ciri-ciri umat mencintai Rasulullah

March 15th, 2008 · No Comments

Oleh Mohd Yaakub Mohd Yunus

Sambutan Maulidur Rasul, taati sunnah antara bukti golongan kasihkan nabi

SETIAP tahun umat Islam menyambut meriah kehadiran 12 Rabiul Awal, iaitu tarikh yang dikaitkan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pelbagai upacara akan diatur sempena hari itu yang dikenali sebagai Maulidur Rasul seperti perarakan, upacara marhaban dan ceramah.

Semuanya ini dilaksanakan demi untuk menggambarkan perasaan kasih dan sayang terhadap junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Saban tahun apabila muncul 12 Rabiul Awal akan timbul juga polemik mengenai sambutan itu sama ada sunnah atau bidaah.

Pihak yang tidak bersetuju dengan sambutan Maulidur Rasul menyatakan ia termasuk amalan bidaah kerana tidak pernah dilaksanakan pada zaman Nabi SAW, sahabat atau zaman salafussoleh.

Malah, imam mazhab yang empat iaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafie dan Imam Ahmad juga tidak pernah menganjurkan sambutan Maulidur Rasul hingga timbul persoalan adakah mereka tidak mencintai Nabi Muhammad SAW seperti generasi sesudah mereka yang menganjurkan sambutan itu.

Mereka yang menyokong sambutan itu beranggapan ia adalah bidaah yang baik (hasanah) dan bertujuan mengagungkan baginda serta mencerminkan kasih sayang kepada baginda. Apatah lagi tidak ada larangan khusus daripada Allah (SWT)serta Rasul-Nya.

Menyambung polemik mengenai sambutan Maulidur Rasul bukan isu kerana yang penting ialah bagaimana tata cara sebenar untuk membuktikan kasih sayang serta keagungan kepada Nabi Muhammad SAW.

Mencintai Nabi Muhammad SAW adalah satu prinsip agama yang penting serta mendasar kerana seseorang itu tidak dianggap beriman sehingga dia benar-benar mencintai Nabi Muhammad SAW melebihi dirinya sendiri, kaum kerabat dan harta-bendanya.

Firman Allah (SWT)yang bermaksud:

“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika bapa-bapa kamu, anak kamu, saudara-saudara kamu, isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, kaum keluarga kamu, harta benda yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu bimbang akan merosot dan rumah tempat tinggal yang kamu sukai (jika semua itu) menjadi perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah (SWT)dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad untuk agama-Nya, maka tunggulah sehingga Allah (SWT)mendatangkan keputusan-Nya (azab seksa-Nya); kerana Allah (SWT)tidak akan memberi petunjuk kepada orang fasik (derhaka).” (Surah al-Taubah, ayat 24)

Rasulullah berhak meraih cinta umatnya kerana baginda adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allah (SWT), memiliki akhlak yang luhur dan jalan yang lurus, mengasihi umatnya, memberi petunjuk kepada umatnya, menyelamatkan umatnya dari neraka dan menjadi rahmat kepada seluruh alam.

Mencintai Nabi Muhammad SAW adalah kesan kesaksian kita bahawa Muhammad itu utusan Allah (SWT)yang menjadi sebahagian daripada kalimah syahadah.

Orang yang benar-benar mencintai Rasulullah SAW memiliki ciri tertentu antaranya :

- Mentauhidkan Allah (SWT).

Hikmah utama diutusnya rasul termasuk Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyeru manusia kembali kepada tauhid yang murni dan menentang syirik.

Firman Allah (SWT)yang bermaksud:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus di kalangan tiap-tiap umat seorang rasul (agar menyeru mereka). Hendaklah kamu menyembah Allah (SWT)dan jauhi Taghut.” (Surah al-Nahl, ayat 36)

Untuk membuktikan kasih sayang kita kepada Nabi Muhammad SAW, hendaklah sekalian umat Islam menghindari amalan syirik dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah (SWT). Mentauhidkan Allah (SWT)adalah bukti paling kukuh menunjukkan kita mencintai Nabi Muhammad SAW.

- Mempelajari al-Quran, memahaminya, mengamalnya dan menyebarkan ajarannya.

Antara tanda mencintai Rasulullah SAW adalah dengan memanfaatkan al-Quran yang menjadi mukjizatnya dalam segala aspek kehidupan kita.

Ibnu Mas’ud berkata: Janganlah seseorang menanyakan untuk dirinya, kecuali al-Quran. Apabila dia mencintai al-Quran, maka dia mencintai Allah (SWT)dan Rasul-Nya.

Untuk merealisasikan makna mencintai al-Quran hendaklah kita mempelajari dan memahami isi kandungan dan beramal dengannya serta menyebarkan pengajaran yang terkandung dalamnya kepada seluruh umat manusia.

- Mentaati Sunnah Nabi SAW.

Satu lagi tanda yang jelas menggambarkan perasaan sayang kita kepada Nabi Muhammad SAW dengan mengerjakan sunnahnya, mengikuti perkataan dan perbuatannya, menjalankan perintahnya dan menghindari larangannya.

Firman Allah (SWT)yang bermaksud:

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat contoh ikutan yang baik bagi kamu, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredaan) Allah (SWT)dan (balasan baik) hari akhirat serta dia pula menyebut dan mengingati Allah (SWT)banyak-banyak (dalam masa susah dan senang).” (Surah al-Ahzab, ayat 21)

- Menyebarkan sunnah Nabi SAW.

Mencintai Nabi SAW bukan sekadar hanya taat kepada sunnah baginda, tetapi hendaklah kita bersungguh menyampaikan serta mengajarnya untuk menyambung tugasan baginda. Jika kerja dakwah baginda tidak ada kesinambungan, pasti sunnahnya akan mati dan digantikan amalan yang bercanggah dengan syarak.

- Sentiasa memuji dan mengingatinya.

Mencintai Nabi Muhammad SAW, bermakna baginda sentiasa berada di hati kita. Oleh itu, kita hendaklah memperbanyakkan membaca serta mempelajari sejarah hidup baginda serta berusaha untuk menjadikan perjalanan hidup baginda sebagai cahaya menyuluh perjalanan kita.

- Mencintai mereka yang dicintai Nabi SAW.

Antara tanda cinta kepada Nabi SAW adalah mencintai mereka yang dicintai baginda seperti isteri-isterinya, ahli keluarga dan sahabatnya serta seluruh umat Islam yang berpegang teguh dengan ajaran baginda.

- Membenci orang yang dibenci Nabi SAW.

Hendaklah kita membenci serta menjauhkan diri daripada mereka yang memusuhi Allah (SWT)dan Rasul-Nya seperti golongan yang kufur kepada agama Allah (SWT)dan mereka yang bergelumang dengan perbuatan bertentangan syarak.

- Membela Nabi SAW daripada serangan golongan munafik.

Dewasa ini kita melihat institusi kenabian, hukum-hakam Allah (SWT)serta sunnah baginda sedang hebat diperlekehkan kelompok munafik.

Oleh itu, tanda kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW adalah membantah hujah golongan itu dan membela baginda dengan memberi penjelasan kepada seluruh umat Islam terhadap isu batil yang dibangkitkan musuh Allah (SWT)itu.

Demikianlah antara tanda yang menggambarkan hakikat sebenar mencintai Nabi Muhammad SAW. Jelas di sini mencintai Nabi SAW bukan satu perkara yang datang hanya setahun sekali. Mencintai Nabi Muhammad SAW adalah satu proses berterusan dan sentiasa perlu diberi perhatian setiap waktu dan ketika oleh seluruh umat Islam.

CINTA DAN MENCINTAI ALLAH

Definisi Cinta

Imam Ibnu Qayyim mengatakan, "Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; memba-tasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka ba-tasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.

Kebanyakan orang hanya membe-rikan penjelasan dalam hal sebab-musabab, konsekuensi, tanda-tanda, penguat-penguat dan buah dari cinta serta hukum-hukumnya. Maka batasan dan gambaran cinta yang mereka berikan berputar pada enam hal di atas walaupun masing-masing berbeda dalam pendefinisiannya, tergantung kepada pengetahuan,kedudukan, keadaan dan penguasaannya terhadap masalah ini. (Madarijus-Salikin 3/11)

Beberapa definisi cinta:

1. Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai).

2. Kesediaan hati menerima segala keinginan orang yang dicintainya.

3. Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan dia daripada diri dan harta sendiri, seia sekata dengannya baik dengan sembunyi-sebunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang.

4. Mengembaranya hati karena men-cari yang dicintai sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya.

5. Menyibukkan diri untuk menge-nang yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya.

PEMBAGIAN CINTA

1. Cinta ibadah
Ialah kecintaan yang menyebabkan timbulnya perasaan hina kepadaNya dan mengagungkanNya serta bersema-ngatnya hati untuk menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala larangaNya.
Cinta yang demikian merupakan pokok keimanan dan tauhid yang pelakunya akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang tidak terhingga.
Jika ini semua diberikan kepada selain Allah maka dia terjerumus ke dalam cinta yang bermakna syirik, yaitu menyekutukan Allah dalam hal cinta.

2. Cinta karena Allah
Seperti mencintai sesuatu yang dicintai Allah, baik berupa tempat tertentu, waktu tertentu, orang tertentu, amal perbuatan, ucapan dan yang semisalnya. Cinta yang demikian termasuk cinta dalam rangka mencintai Allah.

3. Cinta yang sesuai dengan tabi'at (manusiawi),
yang termasuk ke dalam cintai jenis ini ialah:

a. Kasih-sayang, seperti kasih-sayangnya orang tua kepada anaknya dan sayangnya orang kepada fakir-miskin atau orang sakit.

b. Cinta yang bermakna segan dan hormat, namun tidak termasuk dalam jenis ibadah, seperti kecintaan seorang anak kepada orang tuanya, murid kepada pengajarnya atau syaikhnya, dan yang semisalnya.

c. Kecintaan (kesenangan) manusia kepada kebutuhan sehari-hari yang akan membahayakan dirinya kalau tidak dipenuhi, seperti kesenangannya kepada makanan, minuman, nikah, pakaian, persaudaraan serta persahabatan dan yang semisalnya.

Cinta-cinta yang demikian termasuk dalam kategori cinta yang manusiawi yang diperbolehkan. Jika kecintaanya tersebut membantunya untuk mencintai dan mentaati Allah maka kecintaan tersebut termasuk ketaatan kepada Allah, demikian pula sebaliknya.

KEUTAMAAN MENCINTAI ALLAH

1. Merupakan Pokok dan inti tauhid Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Sa'dy, "Pokok tauhid dan inti-sarinya ialah ikhlas dan cinta kepada Allah semata. Dan itu merupakan pokok dalam peng- ilah-an dan penyembahan bahkan merupakan hakikat ibadah yang tidak akan sempurna tauhid seseorang kecuali dengan menyempurnakan kecintaan kepada Rabb-nya dan menye-rahkan seluruh unsur-unsur kecintaan kepada-Nya sehingga ia berhukum hanya kepada Allah dengan menjadikan kecintaan kepada hamba mengikuti kecintaan kepada Allah yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenteraman. (Al-Qaulus Sadid,hal 110)

2. Merupakan kebutuhan yang sangat besar melebihi makan, minum, nikah dan sebagainya.
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata: "Didalam hati manusia ada rasa cinta terhadap sesuatu yang ia sembah dan ia ibadahi ,ini merupakan tonggak untuk tegak dan kokohnya hati seseorang serta baiknya jiwa mereka. Sebagaimana pula mereka juga memiliki rasa cinta terhadap apa yang ia makan, minum, menikah dan lain-lain yang dengan semua ini kehidupan menjadi baik dan lengkap.Dan kebutuhan manusia kepada penuhanan lebih besar daripada kebutuhan akan makan, karena jika manusia tidak makan maka hanya akan merusak jasmaninya, tetapi jika tidak mentuhankan sesuatu maka akan merusak jiwa/ruhnya. (Jami' Ar-Rasail Ibnu Taymiyah 2/230)

3. Sebagai hiburan ketika tertimpa musibah Berkata Ibn Qayyim, "Sesungguh-nya orang yang mencintai sesuatu akan mendapatkan lezatnya cinta manakala yang ia cintai itu bisa membuat lupa dari musibah yang menimpanya. Ia tidak merasa bahwa itu semua adalah musibah, walau kebanyakan orang merasakannya sebagai musibah. Bahkan semakin menguatlah kecintaan itu sehingga ia semakin menikmati dan meresapi musibah yang ditimpakan oleh Dzat yang ia cintai. (Madarijus-Salikin 3/38).

4. Menghalangi dari perbuatan maksiat. Berkata Ibnu Qayyim (ketika menjelaskan tentang cinta kepada Allah): "Bahwa ia merupakan sebab yang paling kuat untuk bisa bersabar sehingga tidak menyelisihi dan bermaksiat kepada-Nya. Karena sesungguhnya seseorang pasti akan mentaati sesuatu yang dicintainya; dan setiap kali bertambah kekuatan cintanya maka itu berkonsekuensi lebih kuat untuk taat kepada-Nya, tidak me-nyelisihi dan bermaksiat kepada-Nya.



Menyelisihi perintah Allah dan bermaksiat kepada-Nya hanyalah bersumber dari hati yang lemah rasa cintanya kepada Allah.Dan ada perbeda-an antara orang yang tidak bermaksiat karena takut kepada tuannya dengan yang tidak bermaksiat karena mencintainya.

Sampai pada ucapan beliau, "Maka seorang yang tulus dalam cintanya, ia akan merasa diawasi oleh yang dicintainya yang selalu menyertai hati dan raganya.Dan diantara tanda cinta yang tulus ialah ia merasa terus-menerus kehadiran kekasihnya yang mengawasi perbuatannya. (Thariqul Hijratain, hal 449-450)

5. Cinta kepada Allah akan menghilangkan perasaan was-was.Berkata Ibnu Qayyim, "Antara cinta dan perasaan was-was terdapat perbe-daan dan pertentangan yang besar sebagaimana perbedaan antara ingat dan lalai, maka cinta yang menghujam di hati akan menghilangkan keragu-raguan terhadap yang dicintainya.
Dan orang yang tulus cintanya dia akan terbebas dari perasaan was-was karena hatinya tersibukkan dengan kehadiran Dzat yang dicintainya tersebut. Dan tidaklah muncul perasaan was-was kecuali terhadap orang yang lalai dan berpaling dari dzikir kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan tidaklah mungkin cinta kepada Allah bersatu dengan sikap was-was. (Madarijus-Salikin 3/38)

6. Merupakan kesempurnaan nikmat dan puncak kesenangan. Berkata Ibn Qayyim, "Adapun mencintai Rabb Subhannahu wa Ta'ala maka keadaannya tidaklah sama dengan keadaan mencin-tai selain-Nya karena tidak ada yang paling dicintai hati selain Pencipta dan Pengaturnya; Dialah sesembahannya yang diibadahi, Walinya, Rabb-nya, Pengaturnya, Pemberi rizkinya, yang mematikan dan menghidupkannya. Maka dengan mencintai Allah Subhannahu wa Ta'ala akan menenteramkan hati, menghidupkan ruh, kebaikan bagi jiwa menguatkan hati dan menyinari akal dan menyenangkan pandangan, dan menjadi kayalah batin. Maka tidak ada yang lebih nikmat dan lebih segalanya bagi hati yang bersih, bagi ruh yang baik dan bagi akal yang suci daripada mencintai Allah dan rindu untuk bertemu dengan-Nya.

Kalau hati sudah merasakan manisnya cinta kepada Allah maka hal itu tidak akan terkalahkan dengan mencintai dan menyenangi selain-Nya. Dan setiap kali bertambah kecintaannya maka akan bertambah pula pengham-baan, ketundukan dan ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan membebaskan diri dari penghambaan, ketundukan ketaatan kepada selain-Nya."(Ighatsatul-Lahfan, hal 567)

ORANG-ORANG YANG DICINTAI ALLAH Subhannahu wa Ta'ala

Allah Subhannahu wa Ta'ala mencintai dan dicintai. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman di dalam surat Al-Ma'idah: 54, yang artinya: "Maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah."

Mereka yang dicintai Allah Subhannahu wa Ta'ala :

· Attawabun (orang-orang yang bertau-bat), Al-Mutathahhirun (suka bersuci), Al-Muttaqun (bertaqwa), Al-Muhsinun (suka berbuat baik) Shabirun (bersa-bar), Al-Mutawakkilun (bertawakal ke-pada Allah) Al-Muqsithun (berbuat adil).

· Orang-orang yang berperang di jalan Allah dalam satu barisan seakan-akan mereka satu bangunan yang kokoh.

· Orang yang berkasih-sayang, lembut kepada orang mukmin.

· Orang yang menampakkan izzah/kehormatan diri kaum muslimin di hadapan orang-orang kafir.

· Orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Allah.

· Orang yang tidak takut dicela manusia karena beramal dengan sunnah.

· Orang yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah wajib.

SEBAB-SEBAB UNTUK MENDAPATKAN CINTA ALLAH Subhannahu wa Ta'ala

o Membaca Al-Qur'an dengan memikir-kan dan memahami maknanya.

o Berusaha mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah yang wajib.

o Selalu mengingat Allah Subhannahu wa Ta'ala , baik de-ngan lisan, hati maupun dengan anggota badan dalam setiap keadaan.

o Lebih mengutamakan untuk mencintai Allah Subhannahu wa Ta'ala daripada dirinya ketika hawa nafsunya menguasai dirinya.

o Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama dan sifat-sifat Allah.

o Melihat kebaikan dan nikmatNya baik yang lahir maupun yang batin.

o Merasakan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.

o Beribadah kepada Allah pada waktu sepertiga malam terakhir (di saat Allah turun ke langit dunia) untuk bermunajat kepadaNya, membaca Al-Qur'an , merenung dengan hati serta mempelajari adab dalam beribadah di hadapan Allah kemudian ditutup dengan istighfar dan taubat.

o Duduk dengan orang-orang yang memiliki kecintaan yang tulus kepada Allah dari para ulama dan da'i, mendengar-kan dan mengambil nasihat mereka serta tidak berbicara kecuali pembica-raan yang baik.

o Menjauhi/menghilangkan hal-hal yang menghalangi hati dari mengingat Allah Subhannahu wa Ta'ala .

(Disadur dari kalimat mutanawwi'ah fi abwab mutafarriqah karya Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd oleh Abu Muhammad)